Intermezo

Alhamdulillah, awal 2021 ini saya diterima CPNS di Kemenag formasi Dosen Basis Data Lanjut di UIN Sunan Gunung Jati Bandung. Salah satu anak tangga dari tahapan perjalanan profesi akademik.

Ketika SD dulu, di jemputan kantor bapak ku, teman-teman bapak bertanya cita-citanya mau jadi apa. Aku jawab, Profesor Doktor Kiayi Haji, tanpa tahu lebih lanjut seperti apa kombinasi profesi tersebut. Yang ku tahu ketika nonton berita di televisi tahun-tahun 1993 - 2000 an acapkali muncul istilah Profesor Doktor Kiayi Haji. Lupa nama-nama Prof. Dr. KH. yang disebutkannya. Kalau sekarang, contohnya ada Prof. Dr. KH. Miftah Faridl, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, dsb.

Sejak saat itu, cita-cita tersebut tertanam di bawah sadarku. Profesor adalah gelar tertinggi akademik, dan KH. adalah panggilan kepada ahli agama. Artinya seorang Prof. Dr. KH. ahli dalam bidang agama dan dalam bidang keilmuannya.

Ketika masuk usia dewasa jalan hidup sempat berliku, dari awalnya masuk Teknik Mesin ITB, lalu terpaksa harus mengundurkan diri setelah enam tahun kuliah. Kemteudian lanjut di jurusan Teknik Mesin Unjani, sambil bekerja di Bappeda Provinsi Jawa Barat sejak 2015 menggunakan ijazah SMA sebagai programmer. Beberapa event di 2017 menguatkan kembali cita-cita yang sempat terkubur tersebut. Masuk S2 Informatika ITB, lalu setelah lulus di 2019, mencoba mendaftar sebagai dosen di beberapa kampus.

Sekarang di tempat ini, saya kembali melihat cita-cita tersebut dengan lebih realistis, bahwa profesor atau guru besar adalah gelar akademik yang bisa diperoleh dengan syarat-syarat administratif berbasis angka kredit. Mirip dengan job system pada game MMORPG. Angka kredit dapat diperoleh dari berbagai kegiatan ataupun capaian.

Alur menuju profesor

Artikel Terkait